05FebSantri Modern dan Teknologi

Di Era Globalisasi, dimana peralatan yang digunakan untuk memudahkan setiap pekerjaan yang dilakukan manusia semakin bertambah. Mulai dari Radio hingga Tablet PC. Gaya hidup modern mulai menjalar ke segala penjuru dunia. Masyarakat, khususnya kaum muda tergila-gila oleh teknologi yang memanjakan mereka. Bahkan, sudah mulai mempengaruhi ruang lingkup pesantren.

Bagaimana santri bisa maju dengan gaya hidup yang glamour dan serba modern, dan mereka tidak terpengaruh terhadap dampak negatif yang ada? Jawabannya adalah santri menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya dan tidak berlebih-lebihan serta tidak menyalahgunakannya. Mungkin mereka hanya tertarik dengan mode dan musik saja. Santri biasanya memakai teknologi yang ada manfaatnya saja.

Seorang santri bisa saja duduk di Starbuck, yang katanya ikon kafe para pemuda dan eksekutif itu sambil berselancar di internet dengan macbooknya dan memegang iPhone. Akan tetapi santri itu bisa Bahasa Arab dan Inggris baik lisan dan tulisan juga mampu menghapal al-Qur’an.

Contoh itulah yang harus ditiru oleh santri-santri yang mampu melaju di tengah zaman tanpa harus malu mengakui identitasnya sebagai santri. So, tidak ada yang dikhawatirkan dengan adanya gadget yang menunjang kegiatan manusia. Dari sisi manfaat juga banyak. Dengan ponsel atau iPhone, santri bisa mengaji al-Qur’an atau membaca, mepelajari hadits, dan menela’ah kitab kuning. Lalu dengan gadget itu, mereka bisa mengatur waktu  mereka untuk beribadah dan melakukan kegiatan lainnya. Laptop juga bisa digunakan unuk dakwah dengan mengetik tulisan dan mengirimnya ke media masa atau mempublikasikannya sendiri di blog ataupun situs-situs berbasis Islam.

Santri modern tidak perlu berpenampilan terlalu urakan apalagi menyalahi aturan. Santri lebih baik berpenampilan sederhana dengan sedikit modis. Boleh pakai jeans, tapi tidak dengan model kecil ujungnya (celana pensil). Juga tidak perlu memakai baju yang aneh-aneh. Rambut juga nggak usah dimodel. Cukup yang rapi dan terlihat keren. Bukankah menjadi diri sendiri itu lebih baik?

Santri dikatakan modern ketika ia juga berfikiran maju untuk dirinya, orang lain, pesantrennya, masyarakat, hingga negara dan agamanya. Santri harus mempunyai ide yang membangun dan memiliki ciri-ciri seperti Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah.

Jadi, nggak gampang buat santri untuk jadi panutan bagi  masyarakat. Harus ada kiat-kiat tertentu untuk meraihnya yang membuatnya menjadi hebat. Santri yang intelek bukan cuma santri yang hanya bisa mengerti tentang Al-Qur’an dan Hadits. Tapi, haruslah jadi seorang santri yang mau berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Penyampaian ajaran Islam tidak selalu hanya melalui sebuah mimbar. Saat ini banyak media penyampaian ajaran islam yang dapat dimanfaatkan salah satunya melalui sebuah lirik lagu. Group Band Wali telah membuktikan ini. Group Band jebolan Pesantren Dar-El-Qolam ini menyampaikan da’wah mereka melalui lirik-lirik lagu mereka. Bukan hanya Wali bahkan para da’i ternama seperti Arifin Ilham dan Yusuf Manshur pun akhirnya turut ambil bagian dalam hal ini. Mereka membuat sebuah lirik lagu lalu masuk dapur rekaman untuk menyampaikan da’wah mereka.

Masih banyak media-media penyampain da’wah lain yang dapat digunakan sekarang seperti internet, radio, dan televisi. Inilah tugas baru bagi para pengurus pesantren modern, agar mereka mampu mencetak kader ummah yang bukan hanya mempunyai kemampuan dibidang agama tetapi juga mampu berkembang ditengah-tengah lajunya arus globalisasi.

Oleh: Farid syauqi, santriwan kelas 5 TMI Darunnajah


  1. No Comments

POndok Pesantren Darunnajah 40-tahun-dn-2

Video Gallery

Watch Our Video Gallery